Thursday, April 26, 2007

mendidik dunia pendidikan

pagi ini saya ngider-ngider di internet, dan saya nyambangin blog teman saya, hafiz. kebetulan baru-baru ini dia ngomongin soal kasus seorang siswa SMP yang meninggal.

dan ada satu poin mencuat dari entry tersebut: rasa takut.

sekarang kalo ditanya, kenapa kita belajar dengan rajin? kemungkinan mayoritas akan berkata "takut ga naik kelas, takut dimarahin ortu, takut dimarahin guru, takut nilai jelek.."
padahal dari hafiz, saya tahu bahwa:
Padahal pengetahuan itu, setahu saya, ada untuk menghilangkan rasa takut!
sungguh suatu ironi, eh?

sistem pendidikan indo ini cukup lucu. sistemnya yang-penting-apal. kapan perang diponegoro? berapa jarak bumi ke matahari?
dan itu ga dijelasin. emang penting, untuk tau jarak bumi ke matahari? terus kalo saya ga tau, terus bumi nubruk matahari, gitu? dan kalo penting, buat apa? emangnya saya mau ke matahari?
saya pernah saking keselnya dengan keadaan seperti ini sampe saya tanya guru fisika SMU saya, "pak, buat apa sih kita ngapalin jarak bulan ke bumi? tinggal ukur pake meteran dari sini ke sana juga beres. toh juga kita udah ngeluncurin astronot kesana."

belum lagi udah cape-cape ngapal, ternyata faktanya SALAH. *batuk* supersemar *batuk-batuk* dan juga *batuk* G 30S/PKI *batuk-batuk*

kocak kan? padahal dulu tiap tanggal 30 september malam, ada satu film yang harus kita tonton. udah seperti cuci otak aja. lama-lama kita bisa ngeliat siswa-siswi SD jalan dengan tangan terjulur sambil bersuara monoton, "braaains... braaaa-aains..."
zombi bangsa.

saya ga ngerti deh. kesannya, kalo ga ranking 1 ga pinter. kalo ga naik kelas berarti goblok. kalo ga pinter matematika berarti ga punya masa depan. kalo ga sekolah ga bisa kerja.
hmmm. orang-orang dewan juga kerja kan? mereka juga sekolah kan? tapi kok moralnya gitu-gitu aja ya?

mendapat nilai jelek bukannya bodoh. tidak bisa pelajaran bukannya tidak berguna.
mungkin memang bukan keahliannya, mungkin memang bukan bidangnya.

apa yang kau harapkan? anakmu bisa matematika, fisika, biologi, olahraga, seni, sastra, politik, sosial, budaya, agama, moral, filsafat? kau pikir mereka itu apa? sekarang saya tanya, kau ingin anak-anakmu menguasai matematika, fisika, biologi, olahraga, seni, sastra, politik, sosial, budaya, agama, moral dan filsafat; nah, apakah kau juga menguasai matematika, fisika, biologi, olahraga, seni, sastra, politik, sosial, budaya, agama, moral dan filsafat? tidak? jangan kurang ajar kau. kau saja tidak bisa, berani-beraninya menuntut anak-anakmu seperti itu.

lepaskan gelar 'guru'mu. lemparkan gelar 'orang tua'mu. lihat kembali ke anak-anakmu; tanya mereka, apakah mereka mau menjadi berani dalam hidup atau tidak, karena sekolah yang bernama 'hidup' jauh lebih susah dan penting dibandingkan sekedar angka '10' di kertas ujian mereka. jangan bebani mereka dengan angka ga berguna itu.

ya, sekolah itu penting, nilai itu berguna (karena kalo ga, ngapain diminta minimum IPK untuk lamaran kerja?), tapi jangan bebani mereka dengan rasa takut. tas sekolah mereka udah cukup berat (serius. tas sekolah anak-anak SD itu beratnya bukan main. terlalu berat untuk punggung mereka yang kecil dan masih dalam masa pertumbuhan itu) jangan bebani mereka lagi.
ingin nilai mereka bagus? buat mereka mengerti, bukan menghafal.

memangnya anak-anak itu robot? memangnya kita robot?

3 comments:

Ano said...

Setuju bangetz!
Memang yang terbaik adalah yang 'mengerti' bukan cuma 'tahu'.
Tapi yang jadi masalah disini adalah, kalau ingin memberi pengertian ke 30-40-50 siswa per kelas (bahkan lebih) akan menghabiskan waktu yang jauh lebih banyak daripada hanya menyuruh mereka menghapal.
Ini terkait dengan bagaimana memberi mereka nilai untuk kenaikan/kelulusan. Kalau melalui 'pengertian', tiap pengajar harus cukup dekat dengan masing-masing siswa dalam menilai seberapa jauh mereka masing-masing mengerti atau tidak. Dengan jumlah yang banyak (30-50++ siswa per kelas) hampir tidak mungkin untuk melakukan hal itu. Jadinya yaa.. potong kompas deh.
Memang seharusnya jumlah guru diperbanyak, jumlah ruang kelas dan fasilitas diperbanyak, kesejahteraan guru diperbaiki, dlsb dst. Kalau bisa, rasio guru-siswa itu jangan lebih dari 1:20, alias satu guru menangani 20 siswa. Tapi jangan jadinya menangani 20 siswa per kelas, tapi ternyata total kelas ada 10.. ya sama juga bohong dong yah.

^_^

*nglantur*

Catshade said...

Memang konyol kalo ada ortu yang mengharapkan anaknya bisa excel di semua bidang. Tapi biar bagaimanapun spesifiknya minat/keahlian kita, wawasan dan pengetahuan generalis itu tetap penting menurut gw. Biarpun dia sastrawan, pebisnis, atau aktor terkenal sedunia, tetep gw bilangin goblok kalo dia sampe bilang 'teori evolusi = manusia berasal dari monyet'. Sure, dia tetep bisa cari makan di bidang yang ia kuasai, dan his/her ignorance akan ilmu biologi dasar mungkin gak mempengaruhi kesuksesannya, tapi...my god, that's just plain ignorant and stupid.

Setali tiga uang dengan filsafat, yg menurut sebagian orang gak ada gunanya dipelajari buat cari makan. Dude, logical reasoning, critical thinking, induction/deduction; semua yang membuat otak kita jalan dgn normal asalnya kan dari ilmu ini. Malah menurut gw ilmu2 kyk gini mesti diajarin sejak smp/sma, biar gak pada ketipu ama mlm, pseudoscience, quack-gurus, dan forwardan2 e-mail sampah.

Jadi, singkatnya...gw setuju kalo prinsip yang-penting-apal itu salah (ini justru yg least important, masih ada understand-apply-analyze-create-evaluate), dan bahwa beban murid sekolah sekarang terlalu banyak (sudah saatnya bikin mata pelajaran pilihan di sekolah), tapi gw juga gak setuju ama pemahaman pragmatis yang ekstrim dlm pendidikan (cuma mempelajari apa yang berguna buat gw hidup/cari makan nanti). Biarpun gak ada hubungan ama kerjaan kita nanti, pemahaman dasar akan sejarah dan geografi bangsa dan dunia, lingkungan n alam semesta di sekitar kita, maths (ini buat belajar logic n problem solving) itu tetap penting dan esensial dlm pendidikan.

Maaf jadi panjang ^^; Btw, hai Kap2 ^^

Kappa said...

@ ano (hai mr. nurhendra!!!)

Memang seharusnya jumlah guru diperbanyak, jumlah ruang kelas dan fasilitas diperbanyak, kesejahteraan guru diperbaiki, dlsb dst. Kalau bisa, rasio guru-siswa itu jangan lebih dari 1:20, alias satu guru menangani 20 siswa.

kemanakah larinya dana pendidikan dalam anggaran kita? :D

=====

@ cattie

Setali tiga uang dengan filsafat, yg menurut sebagian orang gak ada gunanya dipelajari buat cari makan. Dude, logical reasoning, critical thinking, induction/deduction; semua yang membuat otak kita jalan dgn normal asalnya kan dari ilmu ini. Malah menurut gw ilmu2 kyk gini mesti diajarin sejak smp/sma, biar gak pada ketipu ama mlm, pseudoscience, quack-gurus, dan forwardan2 e-mail sampah.

i'm aware about this though. bukan berarti walopun gw marketer, gw tinggalin ilmu lainnya karena toh semua ini juga berkaitan. masalahnya adalah tuntutan dari orang tua kepada anak-anaknya untuk menguasai bidang tersebut padahal mungkin anak tersebut ga bisa (semacem eksploitasi, lah). misal, ada anak yang jago di seni tapi biasa-biasa aja di matematika, tapi ortunya nuntut dia untuk selalu dapet nilai 100 di matematika dan kalo ga dapet 100 ditabok (on some cases, this kind of issue (hit a child when got bad grades) really, sadly, happened) dan itu adalah fakta yang buat gw sangat menyakitkan.

jadi misalnya ada ortu yang maksa-maksa anaknya jago di matematika padahal sendirinya ilmunya juga ecek-ecek juga buat gw ga adil. ya ibaratnya tanya ke diri sendiri lah, emang tega gitu maksain anaknya? untuk 'tahu' itu harus, tapi tidak ada kewajiban untuk 'harus menguasai'. tiap orang punya bidangnya sendiri-sendiri :)

Maaf jadi panjang ^^; Btw, hai Kap2 ^^

no prob lah :D halow juga :) lama ga ketemu nih cattie?

Post a Comment