Dari cerita-cerita temen-temen saya, saya berpikir kalo clubbing places gitu pasti bukan tempat ecek-ecek. Yaaaa, katanya aja satu gelas es teh manis makan duit 20 ribu :| Bener-bener bukan tempat buat saya yang berjiwa anak kos sejati ini, hehe XD
Oke, balik ke topik.
Omong-omong 'bukan tempat ecek-ecek', ya pastinya saya mikir kalo tempat kaya gitu ya pastinya top notch quality lah ya. Pernah sih saya masuk ke tempat macem kafe gitu. Manchester United Cafe. Itu juga soale ada acara penghargaan marketing apaaa gitu, terus karena dosen saya ga bisa dateng jadi saya sama temen saya, si Martono, yang ngegantiin si beliau (baca: sekedar numpang makan gratis doang, wekekeke.)
Dan masih ada hubungannya dengan top notch quality, makanya saya kaget pas saya baca entry blog temen saya, Alfa.
And what can you say? She's bloody angry. And I will be if I was in her shoe.
What would you do if you were in my shoes? Never in my wildest dream have I ever imagined getting such treatment from a person representing a place where I count myself as a loyal costumer!
From marketing-wise... DUDE. Memperlakukan pengunjung biasa dengan kurang sopan aja udah cukup buruk, APALAGI pelanggan. Okelah, saya ga merasakan apa yang Alfa rasakan jadi saya coba berpikir dari pola pikir si sekuriti tapi ya... Tetep aja. Ada yang bisa berargumen, "he's only doing his job" atau mungkin si bapak itu lagi ngalamin hal yang ga enak - apa kek, berantem sama orang kek, sakit gigi kek, apa lah - tapi ya tetep aja... You're in service business man. If you really pissed off with some customer do it with some respect. Ga bisa lah begitu aja nendang orang keluar - kecuali dia maling. Dan dari perspektif saya, Alfa jelas bukan maling. She didn't harm anybody, she didn't put C4 at the place and gunned down some people there.
Saya pernah membaca buku 'Starbucks Experience' dan ada satu ucapan di buku itu oleh seorang manajer Starbucks. Intinya adalah 'perlakukan setiap tamu yang datang seolah mereka mempunyai tanda US$ 10 di dahinya.' Bukan soal materialistis, tapi ini menunjukkan bahwa setiap tamu itu valuable. Dan kalo ga salah Seth Godin pernah bilang (eh, atau si manajer Starbucks itu juga ya?) kalau kita memperlakukan US$10-guest itu dengan tidak hormat, percaya aja kalo kita bakal rugi 20 kali lipatnya US$ 10. Atau lebih.
And Alfa? I think she's worth a million dollars. Oke, mungkin ada yang bilang "dia kan temen lu Kap" tapi liat dari perspektif lain selain dia-teman-saya. Alfa orang di periklanan. Creative Group Head di Ogilvy. 7 tahun. Pelanggan tetap. Dan dari pengalaman saya, orang periklanan yang marah itu lebih mirip hiu putih. Dan seorang konsumen yang marah bisa menjadi teroris.
Kembali ke topik, kesalahan yang saya lihat di sini ya dari sisi Tabac. Di sini saya ga bela siapa-siapa. Asumsikan si sekuriti itu 'hanya mengerjakan tugasnya', tapi toh tetep dia ga berhak untuk bersikap merendahkan ke Alfa. Dan Alfa adalah konsumen. Siapapun dan apapun dia, konsumen berhak mendapatkan perlakuan hormat. Dan di kasus ini, Tabac gagal.
Saya rasa ini sih juga merupakan hukum umum yah. Respect and you will be respected.
0 comments:
Post a Comment