Friday, February 27, 2009

Indie atau mainstream?

"Kok aku ngerasa 'indie' ini jadi mainstream ya?"

Itu celetukan adek saya ketika kita lagi menonton TV dan kebetulan muncul iklan motor Yamaha Soul. Waktu itu Widya nanya ke saya maksud iklan itu apa, dan saya bilang kalo 'Soul' itu buat generasi indie. Generasi yang anti-kemapanan. Generasi yang ga mau ikut gaya pop/populer/mainstream. Ibaratnya, yang namanya band-band pop, boysband dan lain-lainnya yang orang banyak tau itu udah 'ga banget' deh. Ya anggapan "gue ga mau ikutan yang orang lain udah ikutan. Gue mau gaya gue sendiri." Sebenernya sih istilah 'indie' itu saya tau dari dunia musik. Label indie. Label milik sendiri, ga nunut sama major label (Universal Music, Sony BMG dan lain-lain) -- hoho, gaya, mentang-mentang thesis sendiri XD

Nah, abis saya ngomong itu Widya nyeletuk celetukan di atas. Dia ngerasa kalo gaya 'indie' ini malah jadi mainstream. Tiba-tiba semua orang ngomong "eh gue indie lho!" Dulunya kalo indie itu dianggap aneh, kere, miskin, norak dan cupu sekarang mendadak jadi keren, ga manja, mandiri dan gaya banget. Tiba-tiba semua orang jadi indie, tiba-tiba indie jadi populer dan ya, indie jadi mainstream. Rada ironis, menurut saya.

Kalo mau dirunut sih sebenernya tiap-tiap diri kita itu ya individu sendiri. Kita punya jiwa indie sendiri. Tapi ya namanya juga manusia makhluk sosial, ada yang namanya 'trend' yang punya banyak pengikut. Trend yang besar ya namanya mainstream. Banyak yang ngikutin soalnya. Dan banyak industri yang bergantung pada trend. Kalo ga ada trend, susah idupnya. Contohnya pasar handphone deh.

Tapi saya pribadi beranggapan bahwa trend indie ini juga ntarnya bakal kaya Hukum Alam. Saya beberapa hari lalu baca blognya Seth Godin dan dia ngomong soal autenthicity. Otentik. Keaslian. Orang bisa ngomong eh-gue-indie-lu-kaga sana-sini tapi ntarnya juga apakah dia 'asli' (kaya barang aja...) atau ngga, itu yang menentukan. Dan ada ucapan Seth Godin yang saya suka banget. "Authenticity, for me, is doing what you promise, not "being who you are"." Kita adalah apa yang kita janjikan. Karena kalo liat 'dalemnya' kita, toh tiap manusia sama aja. Punya organ tubuh, punya otak, punya emosi, punya hormon. Tapi kepribadian kita yang kita bikin, yang kita 'janjiin' ke kita dan ke orang lain, itu baru kita sebenernya :D Bahasa gampangnya: Brand image kita *halah halah*

Pertanyaannya: Apakah kita udah cukup 'asli', cukup 'otentik' dan cukup beda untuk akhirnya bisa bilang "ini gue, dan cuman satu-satunya di dunia orang yang kaya gue ini"?

P.S.: BTW, abis itu si Widya ngomong lagi, "mau indie atau mainstream ga ada bedanya juga. Ga peduli. Yang penting ga bunuh orang aja, hehe."

Tuesday, February 24, 2009

Know myself better. You could know yourself better too.


Note: Words in italics are my personal words.

Your view on yourself:


You are down-to-earth and people like you because you are so straightforward. You are an efficient problem solver because you will listen to both sides of an argument before making a decision that usually appeals to both parties.

Gee. I learn it for years :| I wasn't that 'much-tolerated' person. In my past, people could mistook me for Hitler :| Ah well, I hope I'm better now :D

The type of girlfriend/boyfriend you are looking for:

You like serious, smart and determined people. You don't judge a book by its cover, so good-looking people aren't necessarily your style. This makes you an attractive person in many people's eyes.

I like serious, smart and determined people, yes. At least we have something to talk when we are talking. Doesn't necessarily 'something in common'. Something to talk, that's more important :D

Your readiness to commit to a relationship:

You prefer to get to know a person very well before deciding whether you will commit to the relationship.

OK. Touche XD 

The seriousness of your love:

Your have very sensible tactics when approaching the opposite sex. In many ways people find your straightforwardness attractive, so you will find yourself with plenty of dates.

What kind of tactics? :| Seriously. I mean, this isn't some kind of World War dude. Oh, and DATES? Yea rite XD ROFL.

Your views on education:

Education is very important in life. You want to study hard and learn as much as you can.

Yep. Actually I'm missing schools so much. Well, I only hate the exams tho.

The right job for you:

You're a practical person and will choose a secure job with a steady income. Knowing what you like to do is important. Find a regular job doing just that and you'll be set for life.

I agree with 'secure job' although I must say that I'm avoiding routine activities. Hm. Regular job? :|

How do you view success:

You are afraid of failure and scared to have a go at the career you would like to have in case you don't succeed. Don't give up when you haven't yet even started! Be courageous.

Being failed is one of the things that I fear most. OK. Be courageous. Hm. Wish me luck :D

What are you most afraid of:

You are concerned about your image and the way others see you. This means that you try very hard to be accepted by other people. It's time for you to believe in who you are, not what you wear.

THAT... That explains a lot :| That explains my fandom towards make-up. Well, in my own defense, I'm a marketer so I need to maintain an image, savvy?

Who is your true self:

You are mature, reasonable, honest and give good advice. People ask for your comments on all sorts of different issues. Sometimes you might find yourself in a dilemma when trapped with a problem, which your heart rather than your head needs to solve.

"Which you heart rather than your head needs to solve." *sighs* While I always think that I should govern my heart. Some stuffs really need logics though.

Friday, February 20, 2009

Never mess up with advertising people. Worse, advertising people in rage.

Saya bukan orang yang gaul. Dugem aja ga pernah, hehe. Bukan apa-apa, tapi emang dasarnya saya anak rumahan. Kalo keluar rumah pas malem biasanya langsung masuk angin, huhuhuhu. Karena bukan orang gaul, jadi saya ga pernah tau nama-nama tempat hangout. Paling ya tau nama doang soalnya beberapa kali disebutin sama temen-temen saya. Embassy, terus... Er. Apa yah. Lupa *gubrak* 

Dari cerita-cerita temen-temen saya, saya berpikir kalo clubbing places gitu pasti bukan tempat ecek-ecek. Yaaaa, katanya aja satu gelas es teh manis makan duit 20 ribu :| Bener-bener bukan tempat buat saya yang berjiwa anak kos sejati ini, hehe XD

Oke, balik ke topik.

Omong-omong 'bukan tempat ecek-ecek', ya pastinya saya mikir kalo tempat kaya gitu ya pastinya top notch quality lah ya. Pernah sih saya masuk ke tempat macem kafe gitu. Manchester United Cafe. Itu juga soale ada acara penghargaan marketing apaaa gitu, terus karena dosen saya ga bisa dateng jadi saya sama temen saya, si Martono, yang ngegantiin si beliau (baca: sekedar numpang makan gratis doang, wekekeke.)

Dan masih ada hubungannya dengan top notch quality, makanya saya kaget pas saya baca entry blog temen saya, Alfa.

And what can you say? She's bloody angry. And I will be if I was in her shoe.
What would you do if you were in my shoes? Never in my wildest dream have I ever imagined getting such treatment from a person representing a place where I count myself as a loyal costumer!
From marketing-wise... DUDE. Memperlakukan pengunjung biasa dengan kurang sopan aja udah cukup buruk, APALAGI pelanggan. Okelah, saya ga merasakan apa yang Alfa rasakan jadi saya coba berpikir dari pola pikir si sekuriti tapi ya... Tetep aja. Ada yang bisa berargumen, "he's only doing his job" atau mungkin si bapak itu lagi ngalamin hal yang ga enak - apa kek, berantem sama orang kek, sakit gigi kek, apa lah - tapi ya tetep aja... You're in service business man. If you really pissed off with some customer do it with some respect. Ga bisa lah begitu aja nendang orang keluar - kecuali dia maling. Dan dari perspektif saya, Alfa jelas bukan maling. She didn't harm anybody, she didn't put C4 at the place and gunned down some people there. 

Saya pernah membaca buku 'Starbucks Experience' dan ada satu ucapan di buku itu oleh seorang manajer Starbucks. Intinya adalah 'perlakukan setiap tamu yang datang seolah mereka mempunyai tanda US$ 10 di dahinya.' Bukan soal materialistis, tapi ini menunjukkan bahwa setiap tamu itu valuable. Dan kalo ga salah Seth Godin pernah bilang (eh, atau si manajer Starbucks itu juga ya?) kalau kita memperlakukan US$10-guest itu dengan tidak hormat, percaya aja kalo kita bakal rugi 20 kali lipatnya US$ 10. Atau lebih.

And Alfa? I think she's worth a million dollars. Oke, mungkin ada yang bilang "dia kan temen lu Kap" tapi liat dari perspektif lain selain dia-teman-saya. Alfa orang di periklanan. Creative Group Head di Ogilvy. 7 tahun. Pelanggan tetap. Dan dari pengalaman saya, orang periklanan yang marah itu lebih mirip hiu putih. Dan seorang konsumen yang marah bisa menjadi teroris. 

Kembali ke topik, kesalahan yang saya lihat di sini ya dari sisi Tabac. Di sini saya ga bela siapa-siapa. Asumsikan si sekuriti itu 'hanya mengerjakan tugasnya', tapi toh tetep dia ga berhak untuk bersikap merendahkan ke Alfa. Dan Alfa adalah konsumen. Siapapun dan apapun dia, konsumen berhak mendapatkan perlakuan hormat. Dan di kasus ini, Tabac gagal.

Saya rasa ini sih juga merupakan hukum umum yah. Respect and you will be respected.

The Boy and The Stone *buset. Udah kaya judul pilem aja*

Kalo saya boleh komentar, kadang headlines berita Indonesia itu bisa ada-ada aja. Dari pembunuh berantai yang jadi super beken sampe nulis buku segala sampe dukun cilik di daerah Jawa Timur, Ponari.

Saya ini kadang (er, sering) telat nonton berita. Soalnya ya rasanya kok tragis semua ya isinya. Acara yang non-berita, adanya sinetron :| Jadi jujur aja, saya rada telat 2-3 hari setelah booming berita Ponari ini.

Siapakah Ponari itu? Ni anak jadi beken banget dan dijulukin 'Dukun Cilik'. Ceritanya sih nih (dari yang saya tonton di satu segmen di TVOne) si Ponari ini awalnya anak-anak biasa gitu deh. Waktu itu dia lagi main sama temen-temennya dan ndilalah nemu batu. Katanya batunya jatuh dari langit pas ujan. Ya seperti biasa anak-anak, tu batu dia bawa pulang. Sampe di rumah rupanya neneknya ga ngerasa sreg sama batu itu (kalo tadi saya bilang "biasa anak-anak" sekarang saya bilang "biasa nenek-nenek" *nah lho*) dan nyuruh si Ponari ngebuang batu itu. Ponari manut, dan batu itu dia buang. Eh mejik, itu batu balik lagi ke dia. Ga tau deh gimana caranya.

'Pasien' pertama Ponari itu tetangganya. Ada temen dia sakit terus dikasih air minum setelah air itu dicelupin batu yang Ponari punya, abis itu anak itu sembuh. And the rest of it, you know the story and the shenanigans that happened. Nyaris saya bilang kaya Heri Poter deh. Kalo Harry itu 'Harry Potter and The Sorcerer's Stone', yang ini 'Ponari and The Whatever... Stone.'

Dan itu bener-bener menggila. Ada korban meninggal? Kaga peduli, tabrak aja terus. Yang penting gue sembuh. Ditutup oleh polisi? Peduli amat. Ngantri terus. Ga dapet air soalnya praktek ditutup? Ambil air sumurnya Ponari. Kalo ga dapet, air comberan juga OK.

Dan yang baru kedengeran ini Dewi Slamet. Er. Saingannya Ponari. Baru aja nih saya nonton di Kabar Malam TVOne, metodenya kaya Ponari, pake air sama batu gitu deh. Si Dewi Slamet (sumpah tiap nulis ni nama saya typo mulu jadi Dewi Persik. Hehe, maap ye jeng Dewi Persik...) ini awalnya sih praktek sembunyi-sembunyi (serasa di 'Buser' aja) tapi bokapnya yang go public. Jadi pasien dikasih air setelah didoain sama si bapak.

Saya mikirnya, "ga komen dah." Serius. Okelah, soal agama, saya ga mau nyentuh-nyentuh. Tiap orang punya opini sendiri kalo udah urusan dia dengan Yang Diatas. Saya pribadi rada-rada skeptis sama 'keajaiban' seperti itu. Saya sih percaya, tapi skeptis -- jadi saya rasa temen-temen udah tau opini saya soal ini dari segi pandang agama.

Tapi dari segi sosial dan kesejahteraan... My God, we're really really poor eh? Di salah satu acara di TV (punten, lupa nama acara dan salurannya, huhu) ada narasumber yang komentar kalo hal seperti Ponarimania ini bisa ditekan apabila ada sarana kesehatan gratis.

Soalnya pertanyaannya adalah: Kenapa? Kok bisa ada hype segila dan seaneh ini? And we thought we're living in 2009?

Kemungkinannya itu 1.) Errr, emang dasar manusianya mau dapet hasil instan. 2.) Mereka ingin sembuh.

Dan poin nomer 2 ini yang penting banget. Siapa sih yang pengen sakit lama-lama? Semua orang ingin sembuh dan sehat. Masalahnya, biaya kesehatan mahal. Dan fasilitas dari pemerintah juga kurang memadai, apalagi di area suburban dan rural. Bisa karena kurang perawatan, kurang tenaga kerja, sulit distribusi dan macem-macemnya. 

Orang ingin sembuh, ingin sehat, biayanya mahalnya luar biasa. Baru duduk di klinik dokter udah harus bayar 30 ribu. Saya ga tau tarif si Ponari ini berapa, tapi dari wawancara di TV dibilangnya kalo "jauh lebih murah dibandingkan tarif ke dokter" dan itu menjelaskan 80% dari pertanyaan.

Okelah, saya ga bisa bilang bahwa kesehatan harus gratis. Masih susah di Indonesia ini kalau mau gratis. Ga usah lihat dari pemerintahnya deh. Kadang beberapa dari rakyat juga suka ngelunjak. Dikasih gratis malah jadinya sembarangan, rese dan jadi kaya lintah. Belum lagi belum bisa jaga kebersihan. Bukan apa-apa, saya takutnya kalo yang aslinya berniat baik malah jatuh ke tangan yang salah. Subsidi BBM? Pembagian sembako ke rakyat miskin tapi ternyata dibawa ke rumah mewah juga?

Makanya saya berusaha mengerti dilemanya. Tapi seperti semua pemikiran utopia, apabila suatu sistem yang awalnya berniat baik ya Insya Allah pasti baik semua hasilnya. Cuma ya itu... Di dunia yang ga terlalu sempurna ini, tetep aja ada lintah. 

Saya merasa 'tren' Ponari ini bener-bener ngegambarin keadaan Indonesia sekarang; desperate. Tertekan dan berusaha mencari jalan hanya untuk sekedar hidup dan makan untuk sehari saja dengan cara apapun.

Yah, bagi kita yang masih bisa dapet rejeki dan menikmati hidup sehat... Saya hanya bisa bilang Alhamdulillah yah :) Agak-agak off topic tapi saya harap Pemilu 2009 bisa bawa perubahan :D

P.S. OMONG-OMONG PEMILU... Ada temen saya nanya, "Kap, nyoblos buat Pemilu ga?" Saya jawab "Insya Allah..." Terus dia nanya kalo Pemilu buat legislatif, saya bakal milih caranya gimana ya secara gitu lhoooooo. Cap cip cup belalang kuncup kah? Ngitung suara tokek kah? Ngitung kancing kah? Merem terus 'nyontreng' kah? Gambarin kumis di foto muka caleg kah? Dan jujur aja, saya bingung :| Kalo Pemilu Presiden, Insya Allah saya ikut. Lha legislatif?

Gini deh. Saya pengennya itu milih partai dan caleg yang NGGA NGOTORIN JAKARTA.

Apa daya, pada jagoan nyampah semua. Selebaran lah, poster lah, bendera lah, baliho lah... Dan masa kampanye udah kelar, ga diberesin juga. Rese? Banget.

Thursday, February 19, 2009

Untung ga kaya 'Tersanjung 6' XD

'I Know What You Did Last Summer'.

'I Still Know What You Did Last Summer'.

'I Will Always Know What You Did Last Summer'.

Hm. 'For God Sake, I Will Always and Forever Know What You Did Last Summer So Please Stop Screaming At Top Pitch Please?'? XD

Siapa tau lhoooo... *dilelepin di empang*

P.S. TransTV lagi muter tu pilem soale. BTW, saya tau kalo Indosiar itu lebih mirip Greek Hell ketimbang stasiun tipi, but good news for you night owls, jam setengah 2 pagi (kadang jam 2 pagi) ada TV series 'NYPD Blue', dilanjut dengan 'Boston Public' dan abis itu Jerry Bruckheimer's 'Without A Trace'. Jerry Bruckheimer ini yang bikin 'CSI' jadi untuk para fans CSI, nonton 'Without A Trace' deh, ga nyesel lho XD

Wednesday, February 18, 2009

Saya tidak terlalu butuh konsep atau teori

"Konsep 'Tuhan' itu ada karena dibuat manusia. Manusia itu sadar ga sadar butuh sesuatu yang lebih tinggi dari mereka, sesuatu yang lebih berkuasa dari mereka."

Saya tahu itu. 

Tapi saya tidak ingin terlalu memikirkan soal konsep atau teori atau apapun itu. Saya manusia, dan saya lemah. Jauh di dalam diri kita, mungkin kita ingin berkata "saya ingin berhenti berpura-pura kuat dan tegar. Saya ingin mengatakan dengan jujur bahwa saya lemah, ketakutan dan membutuhkan bantuan."

Dan saya bukan orang yang tegar atau kuat. Saya lemah. Saya ketakutan. Apabila saya bisa sampai sejauh ini, itu karena saya tidak sendirian. Dan saya bukan orang yang religius atau moralis. 

Saya hanya berusaha untuk percaya.

And the power of faith could bring you to some extent where you didn't believe that you could accomplish it

P.S. Saya meminta maaf apabila entry ini agak menyinggung bagi beberapa orang. Entry ini hanyalah pandangan pribadi dari pengalaman pribadi saya dan tidak ada sangkut pautnya dengan pemahaman dan pandangan orang lain.

Monday, February 16, 2009

Penjelasan lebih lanjut...

Beberapa hari lalu (um, kalo ga salah 2 hari lalu) temen saya di Twitter, Fajar, nanya saya "Kap, alternatekap lu ditutup kah? Kemana?"

Dengan sangat menyesal saya bilang "iya", dan temen saya lagi namanya Ari nanyain soal sketsa. Maksudnya dia itu sketsa comic diary saya. Itu lho, yang saya suka gambar di kertas kecil terus saya foto.

Hm. Oke. Penjelasan lebih luas di sini, soalnya kalo di Twitter dibatesin 140 karakter, hehe.

Blog personal saya - disebut 'alternatekap' - emang saya 'tutup' atau mungkin ucapan Fajar lebih tepat: "You will maintain your 2 different alter egos, - only in 1 address now?"

Bisa dibilang begitu sih.

Tapi saya bener-bener 'tutup' itu ya ga juga soalnya saya ga punya hati buat neken tombol 'Delete Blog'. Entry masih ada. Dan entry dari alternatekap bahkan saya 'pindah' ke blog ini. Jadi ya 'gampangnya' saya itu nutup satu rumah, tapi barang-barangnya masih ada. 

Untuk comic diary... Hm ya saya sekarang agak-agak ati-ati dengan bandwidth, hehe. Ntar lah, pas saya udah pake unlimited, baru bisa upload gambar yang (mungkin) ukurannya cukup besar.

Sunday, February 15, 2009

Another one, from your utterly outrageously EXTREMELY concerned neighbor...

Saya punya opini. Dan saya harap ini bakal didengar oleh semua orang di dunia ini yang mempunyai pompa air. You know, that big bunch of orange-ish, er, whatchacallit... Thing. At your roof. Itulah, semacem tong gede berwarna oranye. Silakan naik ke gedung tinggi di Jakarta dan layangkan pandang ke daerah pemukiman. Feast your eyes with those orange-ish... Thing.

Kalo pompa air rusak, segera betulkan.

Kenapa? Boros air, boros listrik dan kalo berbunyi bunyinya bikin orang pengen bunuh orang. 

Awalnya masih berbunyi kaya anak kucing kejepit pintu.

Coba dengerin suara kaya gitu selama 5 hari terus-terusan, lama-lama suaranya kaya jeritan cewe di film 'Psycho'. Tapi cuma bagian jeritannya aja. Dan diulang.

Berita baiknya adalah, sekarang CIA bisa nemuin cara menyiksa baru selain nyuruh para teroris nonton Barney non-stop.

Dengerin pompa air rusak.

From you concerned costumer, former staff, former student and alumni...

Saya mempunyai semacam, hm, ucapan favorit.

"Please do this world a favor. If doing it for the world is too hard for you, at least DO YOURSELF A FAVOR."

Dan saya ingin sekali menyatakan kepada pihak universitas saya (ya ya, nama ga usah disebut. Ntar ada yang protes terus nyuruh saya "nulis yang bagus-bagus dong Nin..." soal universitas saya padahal kenyataannya ya ga juga *curcol*) bahwa please, please please please do yourself, your students and the rest of this godforsaken world A FAVOR.

Dan saya ga minta banyak-banyak.

Saya cuma minta sebelum launching website publik, website mahasiswa atau apalah itu, mbok ya dites dulu di semua browser.

Apa itu kerjaan yang bakal bikin dunia kiamat?

Saya rasa banyak web programmer dan web designer yang mengetes webnya terlebih dahulu di semua browser deh :|

Dan maksud saya di 'semua browser' ini termasuk Google Chrome dan Safari. Makasih.

Ga hanya Mozilla Firefox, Opera, atau - Innalillahi - Internet Explorer.

And why on Earth you guys still use IE for day-to-day activities and as default browser in every single PC on the campus? Good God.

Oh ya, dan kode div id="body" hanya akan menjadikan kalian sebagai sasaran tertawaan.

... Terlepas dari klaim kalian bahwa kalian adalah 'terdepan di dunia IT', 'nomer satu di dunia IT' dan 'university of choice in 2020'.

Saturday, February 14, 2009

Happy Valentine's DAYS. Yes. DAYS. 365 days.

Hari ini ada beberapa temen saya yang ngirim SMS ngucapin selamat hari Valentine (in friendship term.) Untuk SMSnya, saya mengucapkan terima kasih :D Ya sama-sama, hehe.

Dan temen saya ada yang 'iseng' nanya. "Kap. Hehehe. 'Iseng' ni Kap. Gue mau tanya pendapat lu soal hari Valentine."

"Hwe? Ngapain lu tanya sini?"

"Ya gapapa. Iseng aja. Lu kan suka komen gitu, wehehe."

Ya saya akuin sih, hehe. Kalau temen-temen sadar, saya ndak mengucapkan "selamat hari Valentine" atau apa gitu. Er, intinya saya ndak terlalu antusias XD

Kenapa?

Dasarnya saya orang Marketing.

Ya oke, sebelum pada protes dan bilang soal sejarah tentang St. Valentine, itu saya tau. Tapi yang bikin saya agak jengah soal 'tradisi' hari Valentine ini ya alasan kenapa saya kasih tanda kutip di kata 'tradisi' tadi itu.

'Tradisi'? 'Tradisi' dari mana? Bukan 'tradisi' yang digembar-gemborkan media bahwa oh Valentine harus pink, oh Valentine harus pake lambang jantung hati (jantung, hati, terserah lah...) oh Valentine harus bunga mawar, oh Valentine harus kasih coklat, oh Valentine harus ini, harus itu.

Things that I mentioned above are mere Marketing attempts.

Dan kalau saya boleh kasih opini  jujur dan pribadi, buat saya Valentine itu udah jadi hari 'besar' yang, um, apa ya... Berlebihan?

Sedikit mirip dengan hari Natal, Idul Fitri (Ramadhan termasuk juga) dan Tahun Baru yang udah jadi kelewat berlebihan. Soalnya yang menjadi garis merahnya adalah; kita melupakan intinya. We forgot the essence

Saya pribadi sih suka-suka aja liat liputan tentang hari Valentine. Toh lucu-lucu, kaya tadi saya lihat liputan tentang penjual bunga untuk hari Valentine. Woah, saya pribadi suka sekali ngeliat rangkaian bunga mawar. Cewe mana sih yang ga suka? 

Tapi ya itu, saya rasa jadi berlebihan. 

Lama-lama hari St. Valentine yang diadakan untuk memperingati pengorbanan seorang martir bernama Valentine (yang akhirnya diangkat menjadi orang suci/santo) jadi ajang full-pink dan cinta-cintaan.

Ya bukan hal yang buruk sih, daripada gebuk-gebukan, tapi ya seperti banyak hari besar dan suci lainnya, kalo udah selese ya udah. Finish. Fin. Lewat. Nunggu lagi taun depan.

Makanya saya ga terlalu antusias untuk soal hari Valentine gini. Ya memang ada yang pernah bilang ke saya "ya memang sih, mencintai dan menyayangi itu kan setiap hari, tapi hari Valentine itu kan kaya bener-bener mark the emotion." Iya sih, tapi entah kenapa rasanya jadi komoditi. Pas hari Valentine semua kata 'cinta', 'sayang' dan macem-macemnya diomongin terus, jadi ya hambar-hambar aja. Seolah-olah orang bilang "aku sayang kamu" itu kaya ngomong laporan cuaca. 

As many holidays ('holiday' consist of two words though. Holy and day) I think it would be better for us to instrospect to ourselves. Ya bukan berarti terus tiap ada hari besar gini adanya kita pundung mulu mikirin dosa, itu juga saya ogah. Tapi ya diharapkan sih ga sampe ngelupain intinya. Dan saya rasa sih untuk hari Valentine ini juga kita semua sadar ga sadar udah tau intinya karena suatu hal yang namanya 'rasa sayang' udah ada di dalam kita semua. 

Dan saya selalu menyukai kalimat di bawah ini:
If you love someone, tell them so. Tell them everyday. Life is too unpredictable to let things such as this go unsaid. People leave, people die, and people move on. So be honest always and remain open with your feelings. 
If someone has made your life better, do not let a day go by without letting them know this. The time we have here is short, far too short for unsaid sentences. 
You can never hug too much, love too much, kiss too much, or touch too much. When we keep these kind of things to ourselves, regret is surely in the making.

Haven't Got A Prayer
You guys know what? I love you. Yes. You, the readers of this blog. I even know some of you for quite a long time and many of you have followed the journey of this blog thus you have followed the journey of myself. You guys might know me better than I do. You know my low-times, happy times, sad times, exciting times and many stuffs. 

Some of you even supporting me every single time. Whenever I feel down, sad or low, I write about it here and you guys always support me and cheer me up.

You might think "it's just words. I only typed some encouraging texts at the form and click 'Submit'. I didn't do anything."

Well, picture this. You're hanging on a cliff and you know that in any moment, in any_single_moment, you could fall down and crashed below. But then somebody grabs your hand and pulls you out. That 'somebody' pulls you out from the danger, from your sadness, from your tears. 

You guys always grab my hand and pull me out from the cliff. Thank you. Really, thank you. And I couldn't say it only for a day. It would take more than that. 365 days if necessary.

You might think that you're nobody in this world, but for some people you are their world.

You guys are my world :D

Happy Valentine's Days friends
:) *hugs*

Very un-originally me

I'll just keep my mouth shut this time.
What is school for?
by Seth Godin
Seems like a simple question, but given how much time and money we spend on it, it has a wide range of answers, many unexplored, some contradictory. I have a few thoughts about education, how we use it to market ourselves and compete, and I realized that without a common place to start, it's hard to figure out what to do.

So, a starter list. The purpose of school is to:

  1. Become an informed citizen
  2. Be able to read for pleasure
  3. Be trained in the rudimentary skills necessary for employment
  4. Do well on standardized tests
  5. Homogenize society, at least a bit
  6. Pasteurize out the dangerous ideas
  7. Give kids something to do while parents work
  8. Teach future citizens how to conform
  9. Teach future consumers how to desire
  10. Build a social fabric
  11. Create leaders who help us compete on a world stage
  12. Generate future scientists who will advance medicine and technology
  13. Learn for the sake of learning
  14. Help people become interesting and productive
  15. Defang the proletariat
  16. Establish a floor below which a typical person is unlikely to fall
  17. Find and celebrate prodigies, geniuses and the gifted
  18. Make sure kids learn to exercise, eat right and avoid common health problems
  19. Teach future citizens to obey authority
  20. Teach future employees to do the same
  21. Increase appreciation for art and culture
  22. Teach creativity and problem solving
  23. Minimize public spelling mistakes
  24. Increase emotional intelligence
  25. Decrease crime by teaching civics and ethics
  26. Increase understanding of a life well lived
  27. Make sure the sports teams have enough players
If you have the email address of the school board or principals, perhaps you'll forward this list to them (and I hope you are in communication with them regardless, since it's a big chunk of your future and your taxes!). Should make an interesting starting point for a discussion.

Friday, February 13, 2009

Just because I'm in silence...

Doesn't mean that I'm not screaming.

Doesn't mean that I'm not crying.

Doesn't mean that I'm not angry.

Doesn't mean that I'm not disappointed. 

Doesn't mean that I'm not devastated.

Does not mean that I will not confront you.

Tuesday, February 10, 2009

Klise? Mungkin. Ga juga sih sebenernya.

Dikutip dari Plurk:
Membuang Sampah Pada Tempatnya Adalah Tanggung Jawab Pribadi... JadiKan Ini Sebagai Tugas KehidupanMu...
Saya rasa kalo dibilang 'tugas' masih kelewat general. Orang Indonesia walo udah dibilangin sejuta kali kalo "ini tugasmu" tetep aja ga mudheng.

Soalnya mereka ga ngerasa ada konsekuensinya. Mereka ga ngerasa butuh.

Mereka harus kena banjir, harus kena penyakit yang bikin umur mereka jadi cuman 3 jam, harus kena bencana alam baru inget.

Itu juga saya ragu. Sekarang toh penduduk Jakarta udah ngeliat banjir kaya event tahunan. Easy come, easy go. Kalo dateng banjir, ngomel-ngomel bentar, ngayuh getek bentar, ribut-ribut bentar abis itu kalem lagi. Tetep aja tinggal di bantaran kali dan buang sampah seenak dia.

Indonesia kena wabah Chikunguya? Orang sini masih mikir "bukan gue yang kena juga..."

Udah ada bencana longsor yang bikin satu kampung ketiban tanah, teteeeeeep aja, tebang sana-sini.

Pernah kepikiran, 'apa harus dibilangin ya kalo itu tempat ditungguin baru orang-orang ga berani ngusik-ngusik'? Ya bukannya ngajakin sirik atau gimana geto, tapi ya bilang aja "eh itu kolam kan keramat, ikannya ga boleh dimakan, bisa kudisan 7 tahun ntar!" biasanya sih - BIASANYA - ikannya idupnya lancar jaya gitu deh. Gendut-gendut.

Kaya waktu saya masih di Cilacap, kebetulan punya pohon pepaya. Banyak tangan usil suka nyolong pepaya itu sampe satu hari pencurian itu berhenti.

Kok bisa?

Ayah saya iseng banget ngukir tulisan Arab di batang pohonnya. Mbuh tulisan apaan. 'Halal' kali yeh, atau 'alif ba ta tsa' gitu. Ya dan orang mikir kalo itu dijampi-jampi. Kocak deh XD

Tapi kalo dibilang itu tempat ditungguin, rada dilema juga. Soalnya kemungkinannya ada dua.

Satu, orang ngejauhin jadi ga ngerusak (dan sebenernya ini yang diharapkan.)

Atau dua, orang malah jadi penasaran dan merangsek masuk ke tempat itu dan ujung-ujungnya ngerusak semua. Contohnya? Rumah Pondok Indah. Saya rasa sampe kalo ada beneran setan di sana, setannya juga ikutan sebel. Mau bobo kok diganggu sama orang-orang ga jelas?

Dan biasanya sih yang kejadian di negara mistis macem Indonesia ini, di mana tiap awal taun adanya acara TV itu acara ramal-ramalan dan kalo lagi asik-asiknya nonton film eh dipotong sama "halo saya Mama Lauren.." (sumpah ngga banget rasanya) yang sering kejadian itu yang nomer dua deh.

Padahal kalo mau Indonesia maju, bisa dimulai dengan langkah kecil juga. Ya itu. Buang sampah secara disiplin. Minimal sadar diri.

Saya punya temen, dan kebetulan dia perokok. Tiap matiin rokok, dia selalu nekan rokoknya kuat-kuat sampai apinya mati. Terus dia pernah jelasin ke saya kenapa dia seperti itu.

"Ketika gue ngerokok, gue bisa melakukan tiga dosa Nin. Dosa pertama, gue ngebunuh diri gue dan orang lain yang jadi perokok pasif. Dosa kedua, gue udah ngotorin lingkungan dengan buang abu rokok atau mungkin puntung rokok sembarangan. Dosa ketiga, rokok bisa jadi sumber kebakaran. Gue melakukan dosa pertama dan kedua, dan gue ga mau melakukan dosa ketiga."

Intinya? Apapun itu ada etikanya.

Penyakit revisi adalah...

Rasa malas karena ada kata-kata 'revisi'. 

Belum sidang aja udah pethakilan gini. Pinter deh saya.

Yak hari Rabu atau Kamis kumpulin softcover. Ayo ayo ayo! *menyemangati diri sendiri*

Saturday, February 7, 2009

Berjuaaaaanggg!!!

"Hmm. Oke. Saya tandatanganin yah lembar persetujuannya. Dan sampai bertemu di ruang sidang ya Nin."

Rasanya seperti menghidup udara segar setelah tenggelam.

Friday, February 6, 2009

"Is it right?"

This entry will going to be a helluva personal entry but I don't care. This blog has been quite personal anyway.

Bad start. Saya bisa bilang bahwa bulan ini saya melihat gelas setengah kosong. Banyak banget kejadian ga mengenakkan terjadi ke teman-teman saya dan jujur saja, hari ini saya merasa lelah. Bukan lelah dengan teman-teman saya - God forbids - hanya saja saya dalam kondisi di mana saya tidak bisa mengatakannya kepada orang lain dan saya lelah membawanya diam-diam seperti ini.

Ya tentu aja refer ke entry sebelum ini, gunakanlah ibadahmu sebagai tempat untuk berbicara dengan Tuhan. Tapi jujur saja, saya manusia. Saya manusia yang lebih banyak kurangnya daripada bagusnya. Saya manusia yang tidak sabar, dan saya akui bahwa setiap saya meminta solusi dengan Yang Diatas, saya lebih sering minta 'sooner' daripada 'later'. Hhh, padahal siapa yang tahu sih? Siapa tahu kalo saya minta cepat-cepat, saya malah menyesal. "All in a good time Kap. All in a good time."

Tapi bisa dibilang minimal untuk saat ini saya ada sedikit 'kemajuan'. Kalau biasanya saya ga tau saya kenapa dan apa masalahnya, sekarang saya tahu and by God, I really want to go further from that matters. Saya pengen menghindari permasalahan tersebut dan ga usah berurusan dengan masalah itu, tapi saya ga tega untuk ngomongnya ke orang-orang di sekitar saya.

Sometimes you get really tired with your own past ambitions and just wanted to aim something that might be 'unimportant' you know? Lama kelamaan jadi berpikir bahwa ini bukan soal prestise, gengsi atau kebanggaan. Ini masalah kita itu senang atau tidak. Menikmati atau tidak. Dan ketika suatu hal yang buruk terjadi, apakah kita masih punya motivasi untuk meneruskannya atau tidak.

Problem is, sometimes you are being pushed. Ya okelah, rasanya semua masa depan cerah terhampar di depan mata, tapi entah kenapa hal itu ga menarik. Deep down inside you, somehow - just somehow - you know that 'not all that glitters is gold.' Tapi persepsi orang beda. 

"Ayo! Kamu pasti bisa!"

"Ah, kaya gitu aja kamu bisa lah ngerjainnya..."

"Masa depan kamu bakal cerah! Terjamin!"

Ya ya oke. Tapi ada satu masalah kecil di sini; saya ga tertarik. Sama sekali.

Mungkin akan menjadikan suatu kebanggaan besar apabila saya menyandang nama besar itu, tapi itu bukan tujuan saya. Lama-lama saya capek, saya lelah. Dan justru dari hal-hal yang berkesan 'sepele' saya bisa bahagia dan menikmati setiap waktu yang ada. Dan bukankah itulah yang paling penting?

Hal yang paling menyebalkan di dunia ini adalah ketika apa yang kamu percayai bertentangan dengan apa yang orang-orang lain percayai. Dan di dunia nyata ini ada aturan kejam yang mengatakan bahwa majority rules. Ada yang bilang "history is written by the winner" (atau semacam itulah, saya lupa-lupa ingat) tapi ego kita tidak akan pernah mau kalah. Dan tetap ada satu hal dalam diri kita yang bernama 'hati nurani' yang selalu dengan senang hati membuat kita merasa seperti ampas dan berdosa setiap saat *yeah I'm being sarcastic here. Thank you.*
On some positions, Cowardice asks the question, "Is it safe?" Expediency asks the question, "Is it politic?" And Vanity comes along and asks the question, "Is it popular?" 

But Conscience asks the question "Is it right?" And there comes a time when one must take a position that is neither safe, nor politic, nor popular, but he must do it because Conscience tells him it is right.

Martin Luther King

Wednesday, February 4, 2009

"Kalo kita bisa ngerubah nasib, kenapa ga bisa ngerubah mindset?"

"Itu soal mindset sih Kap, hehe :D Jeleknya ya dari kecil ditekankannya itu 'shalat adalah kewajiban', 'kalo ga shalat itu dosa, masuk neraka', 'kalo ga shalat bakal dipukul' dan macem-macemnya. Belum apa-apa gue bete duluan.

... Buat gue, coba rubah pemikiran itu *jie gaya..* jadi 'shalat adalah kesempatan lu buat istirahat sejenak dari kerja rodi otak, ngobrol bentar sama Tuhan, curcol dikit abis itu kerja lagi' :D Mungkin konyol ya *jangan sampe MUI ngefatwa gue haram, wakakkaka* tapi ya it works for me :)"

I think it works for everybody else :)

"Sabtu pagi di BiNus"

Semalem bobo jam 2.

Paginya jam 6 gerudukan pontang-panting soale telat shalat Subuh *dasar dudut*

Jam 06:10 AM udah ngetok kamar Widya buat nge-print. 100-something halaman.

Jam 06:30 AM turun ke dapur, bikin sarapan.

Jam 06:38 AM. "I got your e-mail. I am not able to read it today. So I postpone our meeting to Saturday morning 8 AM at BiNus."

Ya astaga, saya ngakak lho. Lucu aja keingetan dari semalem grogi dan paniknya bukan main. Moga-moga dosen pembimbing saya oke sama thesis saya, huhu. Doa restunya ya teman-teman.

SELESAI. SE. LE. SAI.

Alhamdulillah dan Insya Allah thesis saya telah selesai.

Selesai diketik maksude.

Dan jam 10 hari Rabu ini pada tanggal 4 Februari 2009, bertempat di kantor dosen pembimbing saya di Fatmawati, saya akan menyerahkan thesis ini.

Grogi + Panik + Gugup + Harap-Harap Cemas + Nyaris Keselek + Kebelet Pipis

Doa restunya ya semua. Moga aja dosen saya menyetujuinya sehingga saya 'tinggal' sidang saja.

Tuesday, February 3, 2009

Some stuffs that guys didn't really get it XD Sori jek..

"Binin kaya mama!"

Gitu celetukan adek-adek saya kalo saya lagi 'kumat'. Dibilang mirip nyokap soalnya kalo saya lagi kumat perawatan badan, bisa heboh sendiri dan ngajak-ngajak orang, hehe. Korbannya ya siapa lagi adek perempuan saya, si Widya. Padahal nyuruh Widya perawatan badan? Oh noooooo. Udah kaya nyuruh kucing mandi. Percuma soale. Abis itu butek lagi, wakakakkakaka! *ups*

Dan nyokap saya kaya gitu, hehe. Ya ga gitu-gitu banget sih. Biasalah, namanya juga perhatian ke anak-anak gadisnya, jadi suka ngasih tau kalo anak perempuan tuh harus rajin ngerawat badan biar tuanya ga nyesel. Bukan soal centil, sumpah deh, tapi ya emang bener sih, siapa sih yang ga suka kalo badannya bersih, wangi dan terawat? Buat diri sendiri juga ini kok. Secuek-cueknya cewe, pasti pengen lah punya badan bersih, hohoh, ngaku aja deh. Kalo ternyata lebih dari itu ya emang saya yang centil XD *rela ngabisin 200 rebu buat serum muka, wakakak*

Jadi kadang kalo saya lagi maskeran, si Widya bisa ngibrit jauh-jauh. Soalnya dia tau kalo saya udah ngeliatin mukanya dia, saya pasti manggil dia.

"Wid, sini deh..."

Wid-sini-deh itu biasanya artinya saya bakal ngusek muka dia pake scrub terus masang masker di muka dia yang artinya muka ga boleh gerak-gerak selama beberapa menit dan rela tampang kaya kuntilanak soalnya pake masker bengkoang, hihi.

Padahal Widya duduk lebih dari 5 menit kalo lagi nonton Spongebob atau Eyeshield 21 doang. Sisanya ya ngibrit ntah kemana.

Dan nasib dia kaya gitu ya selain karena saya, juga kalo ada nyokap. Paling paling deh kalo nyokap kunjungan kenegaraan ke Jakarta terus udah ngeliatin muka atau rambut terus komentar, "muka kamu tuh..." Huwaaaaa! Belum lagi kalo ditanyain, "kok ga perawatan sih?" Hehe, ndak ada duitnya Mam. Tambahin dong XD *dilempar bakiak*

Tapi gimana ya, namanya juga suka, hehe. Cewe yang kalo ngobrol udah heboh, bisa tambah heboh dua kali lipat lengkap dengan presentasi produk dan brosur kalo udah ngomongin barang-barang make up dan perawatan tubuh. Salah satunya yang nyetanin saya dan menjerumuskan saya ke lubang bokek lebih dalam adalah Vina dan Sari, temen-temen kos saya dulu.

Dulu jaman masih ngekos, namanya juga kosan cewe, pasti tiap minggu itu minimal sekali deh ngomongin produk make up. Apalagi si Sari. Cewe yang suka minta dijitakin anak-anak sekos saking lemotnya ini gini-gini udah pernah ngejajal semua produk make up dan perawatan. Kaya waktu itu saya inget saya baru pulang dari kampus terus ketemu dia di depan kamarnya. Saya ngliatin muka Sari. Kok rasanya ada yang bedaaa gitu. Yang diliatin malah cengingisan.

"Hehehehe, kenapa Binin?"

"Sori Dul.. (panggilan dia itu 'Jadul') Rasanya muka kamu ada yang lain gitu" Saya tetep ngeliatin muka dia, nyari apa yang aneh. AH IYA! Bulu matanya!

"Kamu pake maskara Dul?" tanya saya lagi. Bulu matanya lentik banget! Padahal yang saya tau si Jadul ini jarang banget pake maskara (kalo saya mah komplit ini muka dari mata sampe mulut.)

Si Jadul malah tambah ngikik. Ngeri banget ni anak kalo udah ngikik dah. Ketawanya dia bisa disetel menurut permintaan. Mau kaya kunti sampe ngakak ga karuan walo udah dibekep sama anak-anak bisa diatur dah. Jadi merinding sendiri denger kalo dia ngikik. Ni anak pernah bikin shock satu kos gara-garanya pas Jumat Kliwon kita iseng cerita horor sambil matiin lampu malem-malem *ya emang geblek sih* terus si Jadul tiba-tiba ngikik gara-gara lagi baca komik Shinchan dari kamarnya. Karuan aja satu kos pada jejeritan, kirain mbak Kunti beneran nyamperin, huhu.

Ai-ai -- nama aslinya itu Aulia. Anak kos yang kamarnya di depan si Jadul -- yang kebetulan lagi nongkrong di depan kamarnya juga sambil mainan sama anak kucing kos-kosan (kosan kita suka mungut kucing liar. Lumayan lah ada mainan di kos, hehe) nyeletuk, "si Jadul abis keriting bulu mata."

KERITING BULU MATA-- WHAT???

Sumpah sampe sekarang saya ga bisa bayangin begimana itu keriting bulu mata. Ngeri aja kali ya kalo dibayangin, tapi nyoba juga saya ogah. Abis ya buat apa? Kalo gitu saya ga ada alesan beli maskara lagi dong *ditabokin*

Kalo si Vina lain lagi. Anak Tionghoa ini manis banget. Asli. Sumpah. Saya selalu komentar mata dia itu bagus banget. Bulet dan hitam. Pipinya juga selalu warna pink padahal dia ga pernah pake blush on. Ya dia bilang itu karena kulit muka dia kering, tapi asli ni anak imuuut banget. Emang kaya marmut dia, hehe.

Tapi kalo soal perawatan badan, bawel bet. Kalo lagi ngegosip di kamar dia, yang lain pada ngemilin Chitato, dia sibuk sendiri ngolesin Vaseline ke kaki dia. Terus soal kuteks. Wah, ni anak bener-bener Ratu Kuteks sejati. Suka jadi manicurist part-time di kos. Tau sendiri kan kalo mau kuteks tangan kanan itu susah soalnya pake tangan kiri. Minta tolong aja ke Vina. Semangat '45 dia. Dan segala macem jenis kuteks dia punya. Bisa buka toko kuteks sendiri tuh. Ribet dah kalo jalan sama dia ke mall dan lewatin konter kuteks. Susah nariknya. Yang ada dia heboh sendiri nyobain satu-satu. Tapi jarang beli, hehe.

Nah, karena rumah saya dan kosan deket jadi saya suka mampir ke sana sekedar ngegosip, ngobrol atau jadi curhat rame-rame. Ya semenjak saya dan Widya pindah dari kos, mereka komentar kalo kos jadi sepi. Anak-anak baru yang ada di situ ya baik-baik sih, tapi beda lah rasanya temen kos bareng selama 3-5 tahun. FYI, kos Palmerah itu kos yang paling lama saya tempatin dan paling betah. Senayan? Tau sendiri gimana saya pengen ngebom kosan Senayan.

Kira-kira 2 minggu lalu saya mampir ke sana. Dari ngobrol biasa sampe si Vina nyeletuk, "eh Binin tau Skin Food tak?" Saya bilang belum, terus Vina promosi. Jadul yang baru pulang dari klub BNCC juga ikutan ngomporin. Dan, my oh my, iman saya rontok pas liat brosur produk. Saya itu cinta setengah mati sama brosur dan iklan produk make up. Liatin aja kalo saya lagi liat majalah terus ada iklan produk make up. Pasti bakal saya liatin lamaaaa banget. Brosur-brosur Oriflame tuh, biar saya ga beli produknya, saya pasti kumpulin. Saya sukaaaaaaaa banget. Ga tau kenapa. Karena warna-warni kali ya.

Abis itu udah deh, Vina semangat banget cerita kalo "Skin Food itu kualitas produknya sama kaya The Body Shop! Tapi harganya jauuuh lebih murah lho Binin!"

Ya ya, maksude 'jauh lebih murah' di sini itu adalah kalo di The Body Shop harga satu lotion nyampe 500 rebu, di Skin Food dengan kualitas dan jumlah netto yang kurang lebih sama harganya 'cuma' 200 rebu.

Saya? Udah dari awal udah ketempelan stempel 'GOBLOK' di jidat saya.

Asli, saya kemakan banget. Mana ini produk Korea pula. Saya pribadi jadi murtad dari Maybelline ke produk Korea dan Jepang. Soalnya produk Asia di muka saya itu lembut banget. Udah saya bilang muka saya itu ga bisa diajak ke luar negeri. Ga cocok soalnya, hehehe.

Ya udah, waktu saya pergi sama Vina ke Mall Taman Anggrek saya hayu aja pas digeret ke konter Skin Food. Di sana saya beli blush on yang setelah saya coba, asli saya demeeeen banget. Ga menor, dan muka keliatan seger. Padahal saya rada anti sama blush on soalnya sekali pake langsung jrueng menor gitu. Hihi, ngeri.

Pas beli blush on itu, saya dikasih sampel produk. Produknya itu namanya 'Peach Sake Pore Serum'. Jadi untuk kulit berminyak kaya saya, bakal oke banget kalo pake produk itu. Itu kata mbak-mbak di Skin Food MTA yang asli ramah banget dan saya salut gimana dia bisa nginget pelanggan.

Malemnya saya pake, dan beberapa hari kemudian dengan mantap hati saya ke Senayan City dan ga pake babibu langsung menuju konter Skin Food dan beli tu serum (saya tau anak-anak kos bakal ngebunuh saya kalo tau saya beli ni produk duluan, huhu, padahal udah janjian beli bareng soale. Maafkan saya temen-temen, huhu.) Gapapa lah 200 rebu, tapi saya cintaaaaa! Asli bagus banget. Keren banget. Saya sampe promosi ke temen baik saya, Mutia, dan heboh jejeritan promosi di Twitter. Kalo orang bilang, 'jatuh cinta pada pemakaian pertama.' Pas mbak-mbak di Skin Food Senayan City bilang "kalo teratur pake ini, muka jadi halus dan cerah mbak.." PERCAYA MBAK, SAYA PERCAYAAAAA! XD

Berkali-kali saya bilang "kalo di The Body Shop, ini bisa makan duit 500 rebu nih!" dan ada temen saya, cowo, nanya, "Kap sumpah gue ga ngerti kenapa lu bilang gitu. Cuy, itu 200 rebu cuy. Lu pake buat perawatan muka?"

Nah, moral dari setori ini adalah, buat para cowo untuk memahami histeria para cewe terhadap make up, coba rubah perumpamaannya dengan gadget :P

Kalo ada cewe yang heboh, "OMG INI GUE BISA ABISIN 500 REBU DI CLINIQUE TAPI GUE BELI INI 200 REBU DI THE BODY SHOP!" coba pake analogi ibarat anda-anda sebagai lelaki MENDAPATKAN SONY PLAYSTATION 3 DENGAN HARGA SUPER NINTENDO. Ya rada-rada ekstrim sih, tapi histeria kita sebagai cewe juga ekstrim, hiakaka XD

Oh iya, saya juga jadi inget. Waktu di Twitter saya cerita soal masker muka dari Skin Food yang bahannya itu black sugar (gula hitam) ada temen saya yang cowo nanya, "yang bener aja Kap?" soalnya rada takjub dia liat bahannya yang 'ajaib' gitu. Saya bilang kalo masker tradisional bisa lebih aneh lagi bahannya.

Abis ngomong gitu, ada temen saya yang cewe di Twitter nimbrung, "eh coba deh pake masker yogurt dan Aspirin bikinan sendiri!"

Nah kan. Udah dibilang apa juga, hehe.

Monday, February 2, 2009

Sori, saya cuman inget muka situ aja...

Saya ngerti senengnya jadi orang tua itu gimana. Ya saya belum lah jadi seorang ibu, tapi ya kerasa kok senengnya punya anak dari cerita-cerita temen-temen saya yang udah punya anak.

Tapi masalahnya, saya ngga tau muka anak situ. Saya cuman inget muka situ. Jadi kalo di Facebook dan niat nge-add saya, tolong atuh ya pasang muka situ. Foto situ. Boleh lah pasang foto anak situ, suami situ, rumah situ, sodara situ, tapi Facebook rasaan ngasih fasilitas Photo Album tah? Jangan gaptek-gaptek dan malas-malas amat lah ya.

Saya juga tau segimana ngefansnya situ sama Himura Kenshin, Power Rangers, Transformers, Batman, Iron Man atau apalah itu tokoh pilem dan tipi. Tapi tolong ya, rasaan saya ga pernah tu kenal atau ketemu orang macem Batman, Iron Man atau Himura Kenshin. Kalo situ bilang itu kerjaan sampingan situ sebagai super hero, ya kok jadi super hero goblok ya? Ngapain ngaku-ngaku? Ga takut dibunuh orang situ? Atau situ segitu kasiannya ga punya jati diri sampe jati diri orang pun diaku-aku?

Kalo emang ga nyaman pasang foto sendiri, pasang lah foto rame-rame.

Just my $ 0.2.