Oke. Nilai duluan. My verdict is 2 out of 5.
Sekarang, cerita asal mula ‘Astro Boy’ (data diambil dari Wikipedia.)
Astro Boy, atau Tetsuwan Atom (‘鉄腕アトム’) adalah sebuah mahakarya dari Osamu Tezuka. Siapakah Osamu Tezuka? Simply said, he is the Godfather of Manga – dan sering dianggap sejajar dengan Walt Disney (walopun gw harus bilang kalo masih ada studio Ghibli yang sama sangarnya dengan Disney.)
Untuk banyak hal, Astro Boy adalah salah satu dari sekian banyak “anime/manga pertama saya” untuk banyak pecinta anime-manga/otaku di dunia ini.
Dan Astro Boy, terlepas dari cerita anime/manga-nya yang berkesan simpel, adalah satu karya yang serius. Satu karya dengan pesan moral yang luar biasa tinggi. Satu karya yang ngebahas soal diskriminasi dan perbedaan hak dan ras. Jujur aja, ketika anime Astro Boy di-remake dengan tampilan lebih cling dan cerita lebih dalam, itu baru episode-episode awal aja udah nyesek banget. Dan itu anime series. Bukan OVA.
Karena itu pas gw liat ada berita bahwa Astro Boy akan dibuat filmnya oleh sebuah studio antah berantah (ya gw sinis ngomongnya) di Amerika Serikat, jujur aja, gw skeptis. Banget. Gw nanya beberapa temen gw dan liat penilaian mereka yang udah nonton ‘Astro Boy’. “Bagus! Keren! Kyaa, ada Freddie Highmore!” Dan mereka bukan otaku ataupun fans. Oke oke. Ho-hum.
Nah, tadi siang kebetulan gw sama adek gw lagi jalan ke mall Taman Anggrek, dan tiba-tiba kebersit ide di kepala kita berdua buat nonton ‘Astro Boy’. Yes, we gambled.
Hasilnya? Sama kaya nonton film ‘Dragon Ball Revolution’.
“Film Dragon Ball Revolution itu cuma bagus kalo ketika mau nonton itu, otak kita udah di-set bahwa “gue mau nonton film action fantasy.” Ga lebih, ga kurang. Sekali ngarepin nonton film Dragon Ball, ati-ati ada botol melayang.”
Sebelumnya, gw nulis dulu sisi plus film ini. Humornya. Humor di film ini banyak dan kocak-kocak, kaya 3 robot yang tergabung dalam Robot Liberation Front dan banyak celetukan-celetukan yang emang kocak. Dan kemunculan Osamu Tezuka sebagai salah satu karakter ilmuwan sebagai cameo. Bener-bener cute. Tapi udah, itu aja. Sisanya?
Pertama. Doktor Tenma disuarakan oleh Nicholas Cage.
Nicholas Cage.
Nicholas Cage, yang kalo sedih, nangis, ketawa, marah atau kaget mukanya sama mulu.
Kedua. Banyak yang ga jelas. Contohnya karakter Hamegg yang katanya dipecat oleh Dr. Tenma dari Kementrian Ilmu Pengetahuan. Kenapa dia dipecat? Ga dijelasin (dan di manga aslinya, Hamegg adalah seorang pemilik sirkus. Lu bisa bayangin frustrasinya gw.) Atau Cora yang katanya berasal dari Metro City. Kok dia bisa jatuh ke Surface? Ga dijelasin. AND WHO THE FUCK IS CORA? I WANT URAN. ASTRO’S SISTER. ANYBODY.
Tau-tau *BRUK* gitu aja dan ngarepin simpati dari penonton. Er. Oke. But no, thank you.
Dan BTW, tiba-tiba di akhir cerita nongol alien. WTF.
Gw sempet ngira itu cumi-cumi.
Ketiga. Inti cerita. Gw udah bilang di atas tadi kalo ‘Astro Boy’ adalah cerita dengan inti cerita yang dalem. Soal diskriminasi antara manusia dan robot. Prasangka, kesetaraan hak dan ras. Dan ide cerita sedalem dan sekuat itu bisa disampaikan dalam bentuk anime mingguan dan berseri.
“Hei, kalo ide cerita sedalem itu aja bisa ditampilin dalam satu episode anime, pasti kalo di movie lebih keren kan?”
Oh how I wish it would come true. Nyatanya? Yang ada penonton nyaksiin si Astro jadi anak ABG bingung bin labil yang nyariin jati diri dia.
Oh, dan Dr. Tenma nganggep Astro adalah anak dia lho.
Kenapa ga sekalian sutradara film ini ngasih taburan bunga sakura dan padang rumput hijau yang luas membentang? Oh, udah ding.
Rasanya ini kaya nonton anime ‘Powerpuff Girls Z’. Kita yang kebiasa nonton Powerpuff Girls versi Cartoon Network yang emang kocak gila, sekalinya liat Powerpuff Girls Z itu kaya pengen nembak kepala sendiri.
Satu-satunya mashup dari seri Astro Boy yang bikin gw sembah sujud adalah ‘Pluto’ karya si sinting Urasawa Naoki-sama. Atau seperti kata mas Rajasa, “ide ceritanya itu sederhana. Cuman si Astro lawan 7 robot dan ngebuktiin siapa robot terkuat. Tapi sama si Naoki dijadiin cerita sesinting itu :))”
Kesan yang gw rasain abis nonton ‘Astro Boy’ ini, “kok ga beda jauh sama film ‘Robots’?” Ya cuma ketawa haha-hihi doang, tapi ya gitu. Gw ga dapet kesan bahwa “WAOW! GW BENER-BENER ABIS NONTON FILM ASTRO BOY! WAOW!” Habis nonton ya jadi serba salah. Mau memuji kok ya Innalillahi, tapi mau nyela juga kayanya ngga. Kalo lu bukan otaku atau fans, film ini cukup memuaskan. Kalo lu adalah otaku atau fans dan dari awal lu udah berpikir bahwa “gw cuma nonton film robot, BUKAN film Astro Boy” minimal lu bisa bertahan selama 1.5 jam tanpa ngelempar kotak popcorn lu.
Moral dari cerita ini? Amerika Serikat, tolong stop ngerusak cerita dari negara lain. Silakan lu mau buat film seaneh apapun, gw ga peduli, asal itu dari negara lu sendiri. Tapi tolong jangan bikin kita tambah goblok dengan ngacak-ngacak anime/manga legendaris dari Jepang dan ngehina inteligensia kami, para otaku dan fans.
Tapi gw rasa itu udah cukup adil dengan Jepang yang ngobrak-ngabrik Powerpuff Girls, hm?